Minyak Mentah Meroket, Pasar Obligasi Lesu dan Rupiah Terkoreksi Pagi Ini

By Admin


Ilustrasi Rupiah

nusakini.com, Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami penyusutan pada pembukaan perdagangan hari Rabu, 21 Oktober 2026. Mata uang domestik ini terkoreksi sebesar 0,03 persen hingga menyentuh posisi Rp17.993 per dolar AS.

Pergerakan serupa juga terpantau di pasar Non-Deliverable Forward yang mencatatkan angka transaksi sebesar Rp18.022 per dolar AS. Sementara itu, bursa valuta asing di kawasan Asia menunjukkan fluktuasi yang cukup beragam merespons sentimen global.

Won Korea Selatan memimpin penguatan berkat dukungan performa pasar saham domestik dan sentimen positif bursa AS. Baht Thailand mengekor di zona hijau, berbanding terbalik dengan Yen Jepang serta Dolar Singapura yang justru terperosok.

Laju pemulihan mata uang Asia secara umum tertahan oleh lonjakan harga minyak mentah dunia. Komoditas energi ini terpantau meroket tajam hingga menembus level US$110,01 per barel di pasar internasional.

Kenaikan signifikan tersebut merupakan imbas langsung dari eskalasi serangan maritim di perairan Teluk Persia baru-baru ini. Insiden yang menyasar kapal-kapal tersebut dikabarkan memicu kerusakan yang jauh lebih fatal dari fase awal konflik.

Ancaman krisis energi ini langsung memantik kekhawatiran terkait potensi lonjakan inflasi di berbagai negara. "Inflasi global dapat naik jadi 4,4 persen di akhir tahun ini jika harga minyak di atas US$100 per barel," catat proyeksi resmi dari Bloomberg Economics.

Sentimen negatif ini turut menghantam pasar obligasi global yang memicu naiknya imbal hasil instrumen US Treasury. Kondisi tersebut merembet ke Indonesia yang terlihat dari anjloknya minat investor pada lelang Surat Berharga Syariah Negara kemarin.

Tercatat, penawaran pada lelang sukuk tersebut menyusut drastis menjadi Rp22,76 triliun dibandingkan periode sebelumnya. Dinamika pasar yang serba tidak pasti ini membuat pelaku pasar berekspektasi pada intervensi kebijakan moneter.

Sebagian besar analis meyakini tekanan terhadap rupiah akan terus berlanjut di rentang Rp18.000 hingga Rp18.100 per dolar AS. Puluhan ekonom bahkan mulai terbelah dalam memproyeksikan kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia ke depan.

Sebanyak 17 dari total 38 pakar menyarankan agar bank sentral segera mengerek suku bunga ke level 6 persen. Dua ekonom lainnya bahkan mengambil sikap lebih agresif dengan merekomendasikan kenaikan hingga menyentuh angka 6,25 persen. (*)